Header Ads

ads header

Breaking News

P1. FIKIH DAN PERKEMBANGAN I FIKIH X LONG Sem. 1

Perkembangan Fkih
BAB I

FIKIH DAN PERKEMBANGANNYA

Konsep Fikih dalam Islam

Bahasa : Kata Fikih adalah bentukan dari kata Fiqhun yang secara bahasa berarti : فَهْمٌ عَمِيْقٌ (pemahaman yang mendalam) 

Adapun mengenai Fikih secara Istilah adalah mengalami perkembangan dari masa ke masa. Adapun menurut Ulama.

Istilah : Imam Abu Hanifah : Fikih adalah pengetahuan manusia tentang hak dan kewajibannya.

Selanjutnya Imam Asy-Syafi‟i (w. 204 H/819 M) mendefinisikan Fikih sebagai

“Ilmu/pengetahuan mengenai hukum-hukum syari‟ah yang berlandaskan kepada dalildalilnya yang terperinci. 

Berikut ini perlu dilihat beberapa definisi fikih yang dikemukakan oleh ulama ushul fikih berikut:

  1. Ilmu yang mempunyai tema pokok dengan kaidah dan prinsip tertentu. 
  2. Ilmu tentang hukum syar‟iyyah yang berkaitan dengan perbuatan manusia, baik dalam bentuk perintah (wajib), larangan (haram), pilihan (mubah), anjuran untuk melakukan (sunnah), maupun anjuran agar menghindarinya (makruh) yang didasarkan pada sumbersumber syari‟ah, bukan akal atau perasaan.  
  3. Ilmu tentang hukum syar‟iyyah yang berkaitan dengan ibadah dan muamalah. Dari sini bisa dimengerti kalau fikih merupakan hukun syariah yang lebih bersifat praktis yang diperoleh dari istidlâl atau istinbât (penyimpulan) dari sumber-sumber syariah (Al-Qur‟an dan Hadis). 


B. Ruang Lingkup Fikih

Ruang lingkup yang terdapat pada ilmu Fikih adalah semua hukum yang berbentuk amaliyah untuk diamalkan oleh setiap mukallaf.

Adapun orang yang disebut didalam Mukallaf ialah sebagai berikut: 1. Muslim 2. Baligh 3. Berakal sehat 4. Sadar 5. Muallaf

Adapun ruang lingkupnya seperti telah disebutkan di muka meliputi: 

  1. hukum yang bertalian dengan hubungan manusia dengan khaliqnya (Allah Swt.). Hukum-hukum ini bertalian dengan hukum-hukum ibadah. 
  2. hukum-hukum yang bertalian dengan muamalat, yaitu hukum-hukum yang mengatur hubungan manusia dengan sesamanya baik pribadi maupun kelompok dalam segi transaksi finansial.
  3. Hukum-hukum munakahah (pernikahan), ini sering juga disebut dengan hukum kekeluargaan (Al-Ahwâl Asy-Syakhshiyyah). Hukum ini mengatur manusia dalam keluarga baik awal pembentukannya sampai pada akhirnya. 
  4. Hukum jin â yah atau hukum pidana, yaitu hukum yang berkaitan dengan tindak kejahatan yang dilakukan mukallaf. 


C. Periodisasi Perkembangan Ilmu Fikih

Menurut Syaikh Abdul Wahab Khalaf (w. 1357 H/1956 M) perkembangan tarikh alTasyri‟ atau fikih Islam terbagi menjadi empat periode yakni periode Rasulullah, periode sahabat, periode tadwin dan periode taqlid. 

1. Periode Nabi Muhammad Saw. 

Sumber asasi yang ada pada masa ini ialah al-Qur‟an. Tentang Sunnah rasul adalah berdasarkan wahyu Ilahi yang diturunkan kepadanya. Sebagaimana diterangkan dalam firman Allah QS. An-Najm (53): 3-4 yang berbunyi:

(Artinya: "Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur'an) menurut keinginannya. Tidak lain (Al-Qur'an itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)," (AnNajm[53]: 3-4) )

Dan dalam periode Nabi ini terbagi menjadi dua periode dan masing-masing memiliki corak tersendiri. 

a. Periode Makkah

b. Periode Madinah 


2. Periode Sahabat

Periode kedua ini berkembang sejak wafatya Nabi Muhammad Saw. dan berakhir pada masa Muawiyah bin Abi Sufyan menjabat sebagai khalifah pada tahun 41 H.  Pada periode ini hiduplah sahabat-sahabat Nabi terkemuka yang mengibarkan bendera dakwah Islam. 

Ada hal yang paling Nampak dalam periode ini, seperti  Al-Qur’an, Hadis, Qiyas dan Ijma, karena keempat hal ini sebagai rujukan umat islam dalam hukum syariat islam.

Dan selain itu juga Sahabat termasuk orang bisa memberikan fatwa dalam berbagai masalan-masalah yang tidak ada Nash atau jelas masalahnya. Sebagaimana Nabi Muhammad Shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda didalam hadisnya:

Artinya: "Para Sahabatku laksana bintang-bintang (dalam kegelapan malam) dengan siapa saja kalian mengikuti, maka kalian akan mendapatkan petunjuk"


3. Periode Tadwin

Pemerintah Islam pasca keruntuhan Daulah Umayyah segera digantikan oleh Daulah Abbasiyyah. Masa Abbasiah ini disebut juga masa pembukuan fikih, karena pada masa ini terjadi pembukuan dan penyempurnaan fikih.

Pada masa Abbasiyyah ini, yang dimulai dari pertengahan adab ke-2 H sampai pertengahan abad ke-4, muncul usaha-usaha pembukuan al-Hadis, Atsar Sahabat dan fatwa-fatwa tabi‟in dalam bidang fikih, tafsir, ushul al-fikih dan sebagainya. 

Pada masa ini muncul pula mazhab-mazhab fikih yang banyak mempengaruhi perkembangan hukum Islam. Diantaranya:

1. Imam Abu Hanifah Beliau adalah Nu'man bin Tsabit bin Zuta bin Mahan At-Taymi. Seorang Mujtahid dan pendiri mazhab Hanafi. Lahir di Kufah, Irak pada tahun 80 H/699 M dan meninggal di Baghdad, Irak pada tahun 150 H/767 M.

Murdi Imam Abu Hanifah adalah Syaikh Abu Yusuf dan dari Muridnya ini Mazhab Hanafia mulai berkembang, sampai sekarang. Dan adapun Guru Imam Abu Hanifah adalah sebagai berikut: 

1. Hammad bin Abi Sulaiman 

2. Atha bin Abi Rabah 

3. Nafi‟ 

Dan Adapun Murid-murid lainnya sebagai berikut: 

1. Abu Yusuf Ya‟qub bin Ibrahim al-Ansori (w. 183 H)

2. Zufr bin Huzail al-Kufi (w. 157 H) 

3. Muhammad bin Al-Hasan al-Syaibani (w. 189 H)

4. Al-Hasan bin Ziyad al-Kufi (w. 204 H) b. 

2. Imam Malik

Beliau adalah Malik bin Anas bin Malik bin 'Amr Al-Humyari Al-Asbahi AlMadani. 

Terlahir di Madinah dalam sebuah keluarga yang begitu mencintai ilmu terutama Sunnah dan atsar sahabat, pada tahun 714 M/93 H dan wafat pada tahun 800 M/179 H. beliau dikenal memiliki kecerdasan yang luar biasa, sehingga mampu menghafal banyak hadis tanpa tertukar antara satu hadis dengan hadis lainnya.

Salah satu Kitab terkenal yang dimiliki olehnya adalah Al-Muwattoh’ Imam Malik. Didalam kitab ini mengenai kompilasi Hadis dan dan ucapan para sahabat.

Dan ada beberapa kitab lain yang ditulis oleh Imam Malik, diantaranya:

1. Risalah fi al-Radd ala al-Qadariyah

2. Risalah fi al-Aqdhiyah

3. Tafsir Gharib al-Qur‟an 

Adapun pemikiran Imam Malik di dalam Fikih, seperti halnya Imam Hanafi, belum sampai terbukukan. Para murid Imam Maliklah yang mengabadikan pemikiran beliau ke dalam kitab-kitab Fikih. Dan Imam Malik Juga mendirikan Mazhab Maliki, dari sejak kecil saja dia sudah menimbah ilmu dari guru-gurunya, diantaranya: 1) Nafi' 2) Abdullah bin Yazid bin Hurmuz (w. 148 H) 3) Abdullah bin Dzakwan atau Abu Zanad (w. 130 H) 4) Ibnu Syihab Az-Zuhri 5) Rabi‟ah bin Abi Abd Rahman (w. 136 H) 6) Yahya bin Sa‟d al-Anshari (w. 143 H) dan adapun murid-muridnya adalah sebagai berikut: 1). Abd Rahman bin al-Qasim (w. 191 H). Beliau belajar kepada Imam Malik sekitar 20 tahun. 2) Abdullah bin Wahb (w. 199 H). Imam Malik menyebutnya sebagai ahli hukum dari Mesir. Memiliki beberapa karya tulis, juga pernah menjabat sebagai seorang hakim. 3) Usman bin al-Hakam (w. 163 H). Beliau dikenal sebagai salah satu tokoh yang memperkenalkan madzhab Maliki di Mesir.


C. Imam Asy-Syafi'i

Beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i Al-Muttholibi AlQuraisy.

Seorang mufti besar sunni Islam dan pendiri mazhab Syafi'i. Lahir di Palestina tahun 150 H/767 M dan wafat di Mesir tahun 204 H/819 M. Beliau masih tergolong kerabat nabi melalui jalur kakeknya yang bernama Al-Muttholib, yakni saudara dari Hasyim yang merupakan kakek Nabi Saw.

Diantara Ulama Syafi’iyah atau Guru-Guru Imam Syafi’i: 1). Abu al-Hasan Ali Muhammad bin Habib al-Mawardi (w. 450 H) 2) Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi (w. 676 H) 3) Jalaluddin al-Mahalli (w. 864 H) 4) Jalaluddin as-Suyuthi (w. 911 H)  dan Adapun murid-muridnya adalah: 1) Al-Umm 2) Raudlatu at-Thalibin 3) Syarah Minhaju at-Thalibin. 

Sejak akhir pemerintahan Abbasiyyah, tampaknya kemunduran berijtihad sehingga sikap taqlid berangsur-angsur tumbuh merata di kalangan umat Islam.

Yang di maksud dengan masa taqlid adalah masa ketika semangat (himmah) para ulama untuk melakukan ijtihad mutlak mulai melemah dan mereka kembali kepada dasar tasyri‟ yang asasi dalam peng-istinbath-an hukum dari nash al-Qur‟an dan Sunnah.

1. Sebab-sebab Taqlid 

2. Aktifitas Ulama di masa Taqlid 

Tidak ada komentar